GOA Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah. Ceritanya diriwayatkan sebagai legenda antara mitos dan fakta.
Betul tidaknya legenda Putri Pukes, hingga sekarang belum ada yang bisa
memastikannya. Gua Putri Pukes tempat legenda itu diceritakan, kini
sudah menjadi tempat wisata, tetapi sangat di sayangkan gua tempat
manusia yang menjadi batu itu sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga
tidak lagi alami.
Di dalam gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang dipercayai adalah
Putri Pukes yang telah menjadi batu, sumur besar, kendi yang sudah
menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat
pemotong zaman dahulu.

Abdullah, penjaga gua, Batu putri pukes tersebut membesar karena
kadang-kadang batu tersebut menangis sehingga air mata yang keluar
tersebut menjadi batu dan makin lama batu tersebut makin membesar.
Sementara sumur besar kata Abdullah, setiap tiga bulan air di sumur
tersebut kering dan tidak ada air nya, bila ada air orang pintar akan
datang untuk mengambil air tersebut. Sedangkan kendi yang telah menjadi
batu tersebut pernah bawa oleh orang, tetapi dikembalikan lagi karena
dilanda resah setelah mengambilnya. “Sedangkan tempat bertapa itu di
gunakan oleh orang zaman dahulu untuk melakukan bertapa guna mencari
ilmu dan alat pemotong (pisau) peninggalan manusia purbakala kata yang
ditemukan di dalam goa putri pukes,” jelas Abdullah.
Putri Pukes
Tidak
semua orang Gayo mengetahui cerita legenda Putri Pukes, sebagian dari
orang Gayo itu mengetahui legenda itu tetapi tidak mengetahui bagaimana
ceritanya. Menurut cerita dan informasi yang dikumpulkan dari berbagai
sumber yang mengetahui tentang legenda Putri Pukes.
Gua Putri Pukes terletak di sebelah utara, tepatnya di Kampung Mendale,
Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah Putri Pukes merupakan nama seorang
gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga
di Kampung Nosar, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.
Suatu hari dia, dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar
Kilang, Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten
Bener Meriah). Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat.
Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria.
Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya
kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai
wanita diantar yang dalam bahasa gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak
pria ke Kampung Simpang Tiga Bener Meriah.
Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah
peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk
dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya
dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem
‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat
orangtuanya.
Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso
kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan
dengan suami. Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’,
pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama
keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran
terlebih dahulu.
Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria
sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk
dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga
sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga
mempelai wanita.
Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes
terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan
iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang
sudah menjadi istri sah mempelai pria. “Nak…sebelum kamu melewati
daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Laut Tawar.
Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata ibu Putri Pukes.
Sang putri pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang
keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat
putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara
tak sengaja putri menoleh ke belakang, dengan tiba-tiba putri pukes
langsung berubah menjadi batu seperti seperti yang sekarang kita jumpai
di dalam Gua Putri Pukes. Apakah itu hanya mitos atau memang benar-benar
terjadi, tetapi warga setempat percaya kalau cerita Putri Pukes itu
benar ada.