Batch
Virus adalah Virus yang paling gampang dibuat(menurut saya) karena kita
hanya memerlukkan Notepad untuk membuat virus berjenis Batch
ini.Caranya dengan menuliskan Bahasa Pemograman virus Batch di Notepad
lalu kita Save As Dalam Eksitensi .Bat
gampang kan?!
1.Echo off > C:\GueZIEL.txt
echo
berfungsi untuk menampilkan pesan atau komentar yang diberikan user.
Untuk lebih nyaman waktu tampil di command promt tambahkan “off”
sehingga menjadi echo off
2.if no exist C:\Windows\%0 copy %0 C:\Windows
digunakan
agar virus memeriksa dirinya atau kembarannya yang telah berada
diderektori C:\Windows .Jika nggak ada maka akan Mengcopy kederiktori
tersebut. %0 digunakan untuk menghandle nama dirinya sendiri
menu
teks
Selamat datang kepada pengunjung. smoga bermanfaat...
tinggal kan komentar...
tinggal kan komentar...
Jumat, 21 Januari 2011
Rabu, 19 Januari 2011
PEnggiling padi Gayo peninggalan Jepang Di Remesen
Kisah Penggiling Padi Made in Jepang di Gayo
\\Oleh derasnya air sungai Peusangan,
roda-roda tua itu telah berputar sejak berpuluh tahun lalu. Mengupas
padi menjadi beras.. Ide awalnya dari seorang tentara Jepang yang
sengaja menetap di dataran tinggi Gayo, Takengon sekitar awal tahun
1945. Sulit mencari nama asli orang Jepang ini Warga Gayo Takengon
kemudian menyebutnya “Jepang Taring”. Taring, dalam bahasa Indonesia
berarti tinggal\\
Kemajuan teknologi modern tak selama dapat menggantikan peran alat-alat tradisional bikinan orang-orang tempoe doeloe. Buktinya, saat ini masih digunakannya dua mesin penggiling padi tradisional di daerah Aceh Tengah. Milik keluarga Haji Aman Limpah di Kampung Remesen Silih Nara dan milik keluarga Haji Aman Payung di Kampung Uning Kecamatan Pegasing. Kedua mesin penggilingan padi tersebut masih aktif dan berproduksi dengan baik meski sudah berusia puluhan tahun. Dari pengolahan mesin itu dihasilkan sekam dan dedak. ”Cara kerja mesin pemecah padi ini sangat ekonomis dan ramah lingkungan,” kata H. Taharuddin Aman Nona, ahli waris Aman Payung.
Caranya, sebagian Air dari sungai Peusangan dialirkan melalui sebuah Long (parit) berukuran lebar 1,5 meter dengan kedalaman satu meter. Air itu diarahkan ke sebuah roda (cerka) Bentuknya seperti kipas. Hempasan air akan memutar roda yang telah dikaitkan dengan penghubung melalui tali ban. Diperlukan empat rangkaian roda penghubung hingga sampai ke alat pengupas padi dan berakhir di alat pembersih beras.
Kemajuan teknologi modern tak selama dapat menggantikan peran alat-alat tradisional bikinan orang-orang tempoe doeloe. Buktinya, saat ini masih digunakannya dua mesin penggiling padi tradisional di daerah Aceh Tengah. Milik keluarga Haji Aman Limpah di Kampung Remesen Silih Nara dan milik keluarga Haji Aman Payung di Kampung Uning Kecamatan Pegasing. Kedua mesin penggilingan padi tersebut masih aktif dan berproduksi dengan baik meski sudah berusia puluhan tahun. Dari pengolahan mesin itu dihasilkan sekam dan dedak. ”Cara kerja mesin pemecah padi ini sangat ekonomis dan ramah lingkungan,” kata H. Taharuddin Aman Nona, ahli waris Aman Payung.
Caranya, sebagian Air dari sungai Peusangan dialirkan melalui sebuah Long (parit) berukuran lebar 1,5 meter dengan kedalaman satu meter. Air itu diarahkan ke sebuah roda (cerka) Bentuknya seperti kipas. Hempasan air akan memutar roda yang telah dikaitkan dengan penghubung melalui tali ban. Diperlukan empat rangkaian roda penghubung hingga sampai ke alat pengupas padi dan berakhir di alat pembersih beras.
Selasa, 18 Januari 2011
ATU BELAH
5.53
/
Diposkan oleh
Gayo
/
Batu Belah (Atu Belah) Bahasa Gayo, Salah Satu Obyek Wisata yang ada di Kampung Penaron Kecamatan Linge Takengon Aceh Tengah.
| Batu Belah |
PANTAN TERONG
Pantan Terong Kabupaten Aceh Tengah
Pantan Terong adalah sebuah bukit yang terletak di puncak bukit Dataran Tinggi Gayo Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Di tempat ini kita bisa melihat ibu kota Takengon dan Danau Laut Tawar secara keseluruhan, lapangan Pacuan Kuda Belang Bebangka di Kecamatan Pegasing,
bandara udara Rembele dari atas, dengan diapit serta dikelilingi
punggung gunung bukit barisan yang elok. Pantan Terong terletak di kecamatan Bebesan, 7.5 km dari kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah
PUTERI PUKES
GOA Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah. Ceritanya diriwayatkan sebagai legenda antara mitos dan fakta.
Betul tidaknya legenda Putri Pukes, hingga sekarang belum ada yang bisa memastikannya. Gua Putri Pukes tempat legenda itu diceritakan, kini sudah menjadi tempat wisata, tetapi sangat di sayangkan gua tempat manusia yang menjadi batu itu sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga tidak lagi alami.
Di dalam gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang dipercayai adalah Putri Pukes yang telah menjadi batu, sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat pemotong zaman dahulu.
Abdullah, penjaga gua, Batu putri pukes tersebut membesar karena kadang-kadang batu tersebut menangis sehingga air mata yang keluar tersebut menjadi batu dan makin lama batu tersebut makin membesar.
Sementara sumur besar kata Abdullah, setiap tiga bulan air di sumur tersebut kering dan tidak ada air nya, bila ada air orang pintar akan datang untuk mengambil air tersebut. Sedangkan kendi yang telah menjadi batu tersebut pernah bawa oleh orang, tetapi dikembalikan lagi karena dilanda resah setelah mengambilnya. “Sedangkan tempat bertapa itu di gunakan oleh orang zaman dahulu untuk melakukan bertapa guna mencari ilmu dan alat pemotong (pisau) peninggalan manusia purbakala kata yang ditemukan di dalam goa putri pukes,” jelas Abdullah.
Putri Pukes
Tidak
semua orang Gayo mengetahui cerita legenda Putri Pukes, sebagian dari
orang Gayo itu mengetahui legenda itu tetapi tidak mengetahui bagaimana
ceritanya. Menurut cerita dan informasi yang dikumpulkan dari berbagai
sumber yang mengetahui tentang legenda Putri Pukes.
Gua Putri Pukes terletak di sebelah utara, tepatnya di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di Kampung Nosar, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.
Suatu hari dia, dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat.
Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria. Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke Kampung Simpang Tiga Bener Meriah.
Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orangtuanya.
Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu.
Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga mempelai wanita.
Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. “Nak…sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan penah melihat ke belakang,” kata ibu Putri Pukes.
Sang putri pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri menoleh ke belakang, dengan tiba-tiba putri pukes langsung berubah menjadi batu seperti seperti yang sekarang kita jumpai di dalam Gua Putri Pukes. Apakah itu hanya mitos atau memang benar-benar terjadi, tetapi warga setempat percaya kalau cerita Putri Pukes itu benar ada.
ATU BELAH
5.53
/
Diposkan oleh
Gayo
/
Batu Belah (Atu Belah) Bahasa Gayo, Salah Satu Obyek Wisata yang ada di Kampung Penaron Kecamatan Linge Takengon Aceh Tengah.
| Batu Belah |
umh pitu ruang
Salah satu Obyek Wisata bahkan Bukti Sejarah adalah Umah Pitu Ruang Museum Makam Reje Linge di dataran tinggi Gayo, tepatnya di Kampung Buntul Linge Kecamatan Linge Takengon Kabupaten Aceh Tengah
![]() |
| Pintu Gerbang Umah Pitu Ruang Museum Makam Reje Linge |
| Makam Reje Linge |
Langganan:
Postingan (Atom)



